Grup Panin Menjadi Bahan Perbincangan

Grup Panin Menjadi Bahan Perbincangan – Grup Panin kembali menjadi perbincangan hangat di antara para pelaku pasar saham. Ini menyusul kabar tersiar, bahwa satu pemegang sahamnya ingin melepas kepemilikan di salah satu anak usahanya, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Grup Panin selama ini memang mengendalikan PNBN lewat PT Panin Financial Tbk (PNLF) dengan kepemilikan saham 46,04%. Adalah Australia & New Zealand Banking Group Ltd (ANZ) yang ingin mendivestasi sahamnya di PNBN.

Perusahaan keuangan asal negeri kanguru itu juga disebut sudah menunjuk Morgan Stanley untuk membantu proses divestasi tersebut. Di sisi lain, Bank BCA disebutsebut berniat membeli saham PNBN, meski belakangan kabar tersebut dibantah BCA. Tak urung, harga saham PNBN bergerak naik didorong sentimen tersebut. Saham PNBN sejak awal tahun berada dalam fase downtrend dan periode ini menggiring sahamnya turun hingga setengah harga dari Rp 1.400-an ke Rp 700-an. Nah, sejak 14 Agustus 2018, pola pergerakan PNBN mulai berbalik arah. Harganya merangkak naik dari Rp 730 per saham ke Rp 955 per saham.

Sejauh ini, ANZ belum memberikan pernyataan resmi soal usaha terbarunya untuk keluar dari PNBN. Sementara manajemen Panin Bank juga tidak memberikan keterangan lebih jauh. Dalam keterangan resminya, Herwidayatmo, Presiden Direktur PT Bank Pan Indonesia Tbk menyampaikan, manajemen Panin Bank belum memperoleh informasi yang jelas mengenai rencana tersebut. Lantas, seperti apa proyeksi pergerakan harga saham PNBN ke depan menurut analis?

Sebelumnya harga saham Grup Panin, termasuk PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) memang sudah sempat naik. Hal itu didorong rumor Bank BCA akan mengakuisisi sebagian saham PNBN. Di saat yang hampir bersamaan juga mencuat kabar bahwa Australia & New Zealand Banking Group Ltd. (ANZ) menyewa jasa Morgan Stanley untuk membantu divestasi kepemilikan mereka di PNBN. ANZ sejak lama memang diketahui ingin keluar dari PNBN. Masuknya bank sebesar BCA tentu akan berdampak positif bagi PNBN ke depan. Maka tak heran jika pelaku pasar mengapresiasi kabar tersebut yang tecermin dari pergerakan harga sahamnya. Belakangan kabar tersebut memang dibantah oleh BCA. Namun soal niat ANZ mendivestasi kepemilikan mereka di PNBN tetap memberikan aura positif. Prosesnya mungkin tidak bisa cepat dan mudah. Tapi masuknya investor baru tentu diharapkan bisa mendukung kinerja perusahaan ke depan.

PNBN bisa saja menjadi lebih ekspansif mengejar pertumbuhan kredit, termasuk menggarap lebih dalam segmen-segmen kredit potensial seperti kredit usaha kecil dan menengah (UKM) dan kredit konsumer. Kalau pertumbuhan kredit- nya bagus yang tentunya disertai dengan kualitas aset yang bagus pula, itu akan berpengaruh positif ke kinerja keuangannya. Akhirnya, juga berpotensi membawa pengaruh pada harga sahamnya. Apalagi, selama ini PNBN tergolong bank yang moderat dalam mengejar pertumbuhan bisnis. Jumlah cabang banknya misalnya, belum bertambah secara signifikan. Ini berbeda dengan bank-bank besar yang lebih agresif dalam menggelar ekspansi bisnisnya.

Prospektif

Di luar faktor-faktor di atas, saham PNBN sejatinya cukup menarik. Secara valuasi, harga sahamnya tergolong murah. Kalau dilihat price to book value (PBV) ada di level 0,59 kali. Sementara price to earning (P/E) ratio ada di posisi 8,9 kali. Perhitungan valuasi tersebut berdasarkan harga Rp 950 per saham. Sementara secara teknikal, tren harga PNBN juga sedang naik. Dus, untuk jangka menengah saya merekomendasikan beli saham PNBN. Target harganya ada di Rp 1.155 per saham. Jika berminat, Anda bisa buy on weakness di kisaran harga Rp 890-Rp 920 per saham.