Omset Meningkat Berkat Warteg Modern Part II

Untuk lokasi, Herman bilang, saat ini tempat yang paling cocok adalah dekat dengan pusat perkantoran. Soalnya, menu yang warteg tawarkan paling pas dinikmati siang hari. Itu bertepatan dengan jam makan siang orang kantoran. Herman berpesan, sebaiknya memang pemilik warteg kekinian harus berani berinvestasi lebih di tempat.

Ia mencontohkan, saat memulai usaha dulu, bujet untuk merenovasi tempat saja sudah mencapai Rp 100 juta. Kalau untuk bahan baku masakan, ia hanya menyiapkan sekitar Rp 3 juta.

Bahan Masakan Selalu Segar

Jelas, warteg kekinian tidak hanya menjual tempat yang asyik. Makanan yang mereka sediakan juga mesti yang sedapsedap. Di Warteg, misalnya, mengolah bahan baku yang segar-segar tanpa menggunakan pengawet dan penyedap rasa sehingga makanan mereka lebih sehat. Kami menyediakan nasi merah untuk mengakomodasi tren menu sehat rendah gula, imbuh Herman. Bagi Herman, dengan memakai bahan baku yang segar dirinya mampu meraih margin yang tinggi. Makanya, saya tidak habis pikir dengan kebanyakan warteg konvensional yang masih banyak menggunakan bahan baku yang tidak segar dan kurang layak, sebutnya.

Untuk memasarkan warteg miliknya, Herman tidak beriklan yang heboh di media sosial. Selama ini, ia hanya memanfaatkan cuitan pelanggan di Twitter atau unduhan foto di Instagram serta Facebook. Begitu juga dengan Yenni, yang memaksimalkan jejaring sosial secara gratis. Sementara ini dia belum ada niatan menggunakan fasilitas iklan berbayar yang ada di media sosial. Meski dalam tren yang terus tumbuh, usaha warteg kekinian tetap memiliki tantangan tersendiri. Buat Herman, tantangan bisnis ini ke depan adalah bagaimana memperluas pangsa pasar yang selama ini fokus pada karyawan kantoran. Salah satu segmen yang dia bidik adalah kalangan milenial yang masih kuliah dan sekolah. Untuk bisa menggaet pasar ini, jelas Herman harus berbenah dan menyesuaikan diri. Untuk menu, misalnya, bukan rahasia lagi kalau generasi milenial kebanyakan masih gandrung makanan instan. Tapi, ada dari mereka yang mulai tertarik mencicipi makanan sehat. Kelompok inilah yang berusaha kami tarik perhatiannya dengan menyediakan berbagai menu sehat, ujarnya. Anda ingin jadi pengusaha warteg kekinian juga.

Ingin Mnejadi Mitra Warteg Modern?

Salah satu warteg yang melegenda adalah Warteg Kharisma Bahari. Kondang dengan singkatan WKB, warung tegal ini berdiri sejak 1996 silam. Menurut Sayudi, pemilik WKB, animo masyarakat untuk membuka usaha warteg enggak pernah padam. Melihat peluang yang menggiurkan itu, mulai 2009 lalu, Sayudi menawarkan kemitraan WKB. Hingga kini, sudah ada sekitar 180 mitra WKB yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Nah, bagi yang ingin punya warteg secara instan, Anda bisa bermitra dengan Sayudi. Ia menyediakan dua jenis kerjasama: beli putus dan bagi hasil. Dalam beli putus, mitra menjalankan penuh operasional warteg, mulai memasak hingga melayani pelanggan.

Sedangkan pada sistem bagi hasil, WKB akan menempatkan dua koordinator untuk menjalankan usaha. “Bagi hasil yang ditetapkan adalah 50:50 dari keuntungan bersih,” ungkap Sayudi. Nilai investasi, baik beli putus maupun bagi hasil, mulai Rp 25 juta untuk tipe kecil, Rp 50 juta tipe sedang, dan Rp 130 juta tipe super. Mitra akan memperoleh perlengkapan dapur, peralatan makanan, renovasi tempat, meja, kursi, dan sebagainya. Tiap tipe dibedakan oleh kelengkapan dan kualitas fasilitas yang diberikan. Dalam sehari, kata Sayudi, setiap mitra WKB bisa mengantongi omzet Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta tergantung jumlah pengunjung dan tipe warteg. Untuk tipe super bisa Rp 5 juta, ujarnya. Untuk lokasi, Sayudi merinci, mitra harus menyediakan tempat seluas 3 meter (m) x 20 m, dengan dapur dan kamar tidur untuk karyawan. Guna mendongkrak penjualan, maka letak warteg yang dekat dengan pusat keramaian menjadi keharusan.